KELAINAN-KELAINAN AKIBAT KETINGGIAN PADA PENERBANGAN

Oleh  Ns IKIN TASIKIN,S.PD,.S.Kep,.MM.

Dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat, berdampak langsung terhadap dunia penerbangan yang mempunyai pesawat-pesawat modern yang mampu bermanuver terbang dengan kecepatan tinggi disertai ketinggian terbang mencapai 50.000 feet lebih, hal ini ada konsekuensi terhadap tubuh manusia karena manusia mempunyai standar kemampuan yang tetap bahkan lebih jelek sebagai contoh bagaimana paru-paru bernafas dan berapa cc oksigen yang diisap, berapa cc darah jantung memompa dan sebagainya sedangkan dunia penerbangan makin kesini makin canggih dan modern yang mempunyai kemampuan terbang dan manuver diatas kemampuan manusia dalam kaitannya dengan fisiologi jasmani manusia. Berdasarkan hal tersebut diatas ada satu kajian ilmu tentang kesehatan penerbangan cabang dari ilmu kedokteran yang mempelajari tentang kelainan-kelainan akibat ketinggian atau penerbangan dan bagaimana cara mengatasinya pada tulisan ini saya mencoba secara sepintas menguraikan tentang kelainan-kelainan akibat ketingggian atau penerbangan diantaranya :
  1. Hipoksia yaitu suatu keadaan dimana jaringan otak kekurangan O2 (Oksigen) sampai mengakibatkan gangguan fungsi, Hipoksia ini terjadi karena oksigen kurang akibat adanya perubahan tekanan udara di ketinggian, diatas permukaan laut ( sea level ) tekanan udara 760 mmHg (1 atmosfir), pada ketinggian 10.000 feet tekanan turun menjadi 523 mmHg, pada ketinggian 18.000 feet menjadi 380 mmHg dan pada ketinggian 30.000 fit menjadi 226 mmHg, begitu seterusnya semakin tinggi tekanan udara semakin rendah saturasi oksigen semakin kurang dan suhu semakin dingin. Penurunan tekanan ini akan berdampak pada berkurangnya suplai 02 (oksigen) yang sering disebut dengan HYPOXIC HYPOXIA gejala Hipoksia tidak dapat dilihat dengan segera, karena yang bersangkutan tidak merasa sakit, bahkan gembira ( EUPHORIA), pusing panas dingin, gangguan penglihatan sakit kepala sampai jatuh pingsan.
  2. Gangguan Gastrointestinal (pencernaan) tekanan udara yang berubah dalam penerbangan diikuti perubahan gas–gas tubuh  sesuai hukum Boyle  volume gas berbading terbalik dengan tekanan udara sehingga gas–gas yang terperangkap dalam lambung dan usus akan terjadi perubahan yang sebanding sehingga mengakibatkan pasien menjadi kembung, sebagai contoh kalau berada didarat (sea level) volume gas lambung 500 cc dengan tekanan  udara 760 mmHg, pada ketinggian 18.000 feet tekanan udara menjadi 380 mmHg volume gas di lambung menjadi 1000 cc 2 kali lipat volume di darat hal ini menimbulkan rasa sakit dan gangguan lain–lain. Salah satu pencegahan dengan tidak makan dan minum makanan yang mengandung gas seperti kol, minuman bersoda pada saat akan melaksanakan penerbangan.
  3. Ganguan telingga ( AEROTITIS ) ganguan ini menunjukan gejala gangguan telinga seperti terasa penuh pada telinga, bergemuruh dan ada ganguan pendengaran. Ada saluran yang disebut TUBA EUSTACHIUS yang menghubungkan telinga tengah kelaring dengan celah yang akan lebih mudah udara mengalir keluar dari pada udara masuk kedalam, bila terjadi pengembangan gas dalam telinga tengah dan terjadi perbedaan kurang lebih 15 mmHg maka udara akan mengalir sendirinya, masalah akan mucul kalau kita Pilek pada saat pesawat menurunkan ketinggian  udara akan masuk ketelinga tengah yang lebih sulit kondisi pilek dan menimbulkan rasa sakit yang hebat. Jika hal ini tejadi penumpang bisa mengatasi dengan melakukan jawing (pergerakan rahang) atau makan permen kemudian lakukan VALSAFA yaitu meniupkan udara dengan hidung dan mulut ditutup sampai terasa bunyi gendang telinga.
  4. Gangguan pada gigi (Aerodontalgia ) suatu keadaan sakit pada gigi yang ditambal tetapi tidak sempurna, gas yang berada diruang gigi yang berlubang mengembang akibat perubahan tekanan udara dan menimbulkan rasa sakit yang hebat , dianjurkan bagi para penumpang apalagi jamaah haji sebelum keberangkatan, gigi yang berlubang ditambal dulu supaya tidak terjadi hal tersebut.
  5. Adanya kelainan akibat penguapan gas seperti BENDS, CHOKES : Bends suatu keadaan dimana terjadi rasa sakit pada sendi besar dan enak kalau dibengkokan sedangkan Chokes yaitu rasa sakit dan sesak pada daerah dada
  6. Kelainan akibat percepatan (G-force) kelainan ini terjadi akibat perubahan arah percepatan menimbulkan gangguan peredaraan darah berlaku hukum aksi reaksi point 4 dan 5 jarang terjadi pada pesawat angkut komersil.
  7. Mabuk udara hal ini terjadi karena adanya gerak tak lazim yang menimbulkan gangguan alat keseimbangan dan alat pencernaan.
Kelainan kelainan tersebut diatas dapat terjadi akibat perubahan tekanan pada ketinggian atau penerbangan, walupun sekarang pada umunya pesawat komersil modern menggunakan kabin bertekanan (PRESSURIZED CABIN) yang menghasilkan  tekanan udara di pesawat hampir sama dengan tekanan di permukaan laut (sea level ) sehingga kenyamanan penerbangan terjamin walaupun tidak persis seperti keadaan didarat, tetapi tidak salah kalau kita mengetahui hal-hal tersebut diatas walaupun bisa diatasi dengan kabin/tekanan.
Demikian sekilas info tentang kesehatan penerbangan  yang berkaitan dengan kelainan kelainan akibat ketinggian, diharapkan para penumpang mengetahui hal ini sehingga perjalanan melalui penerbangan terlaksana dengan aman dan nyaman.  Aamiin.

 

Updated: January 24, 2018 — 4:23 am
Akper RSP TNI AU © 2017 Frontier Theme